Home / Berita Umum / Ada 20 Gugatan Perdangangan Manusia Tahun 2004-2017

Ada 20 Gugatan Perdangangan Manusia Tahun 2004-2017

Ada 20 Gugatan Perdangangan Manusia Tahun 2004-2017 – Menurut analisa terkini, lebih kurang 1/2 dari pemeran perdagangan manusia yg dijatuhi hukuman dalam sekian tahun paling akhir di Australia merupakan wanita. Sejumlah besar dari mereka pula berubah menjadi korban dari perdagangan tersebut.

Point khusus :
Seseorang pakar udah mendalami enam wanita yg dijatuhi hukuman lantaran perdagangan manusia dalam periode 13 tahun
Dia mengemukakan sebagian dari mereka datang dari latar belakang pekerja sex
Dia mengemukakan latar belakang pemeran mesti diperhitungkan dalam hukuman
Calon PhD di Flinders University, Alexandra Baxter, mengemukakan banyak orang-orang belum mendalami fakta perdagangan manusia di Australia, dengan warga sejumlah besar menyaksikannya jadi soal yg dilaksanakan oleh laki laki.

” Stereotipnya merupakan kalau banyak korban diculik, dibius, diperkosa, didesak namun itu belum semestinya apa yg sesungguhnya berlangsung, ” ujarnya.

Penelitiannya, yg diluncurkan dalam Journal of Human Trafficking, menemukannya banyak pemeran sesungguhnya merupakan wanita yg udah diperjual-belikan jadi pekerja sex ke Australia.

Dari semua perkara perdagangan manusia yg diselidiki oleh Kepolisian Federal Australia, cuma dikit yg selesai dengan pengadilan serta penuntutan yg sukses.

Ada 20 gugatan perdagangan manusia di Australia pada tahun 2004 sampai 2017.

Baxter mendalami enam dari sembilan wanita yg dijatuhi hukuman lantaran perdagangan manusia pada periode itu.

Dia mengemukakan, kejadian dari banyak pemeran wanita ikuti skema yg sama.

” Mereka dikehendaki buat melayani konsumen pria, mereka mengerti itu, ” ujarnya.

” Banyak yg ada dari latar belakang pekerja sex di negara asal mereka, yg merupakan Thailand dalam banyak perkara. “

” Mereka mesti kerja enam hari 1 minggu, semua pendapatannya dibayarkan buat melunasi hutang mereka. Jadi mereka tak terima uang yg ada ke klien-klien itu. “

Dia mengemukakan banyak pemeran bakal punyai uang yg ditambah ke hutang mereka cuma buat dapat makan.

” Mereka tak punyai paspor mereka sendiri, mereka tak terima uang dari konsumen, sekiranya mereka butuh uang buat makanan, banyaknya itu bakal ditambah ke utang mereka, ” ujarnya.

” Demikian mereka membayar utang mereka, mereka lantas bertahan di industri sex, berubah menjadi germo serta membawa wanita beda buat lantas dieksploitasi seperti mereka. “

Banyaknya korban wanita tinggi

Baxter mengemukakan dia menemukannya kalau hakim kerap meniadakan latar belakang wanita, atau menyaksikannya jadi argumen untuk mereka buat lebih tahu.

Dia mengemukakan hakim kerap mengemukakan perihal seperti pemeran ” selayaknya tahu ” tabiat mereka salah, mengingat mereka sempat menjalaninya sendiri.

” Sangatlah simple buat mengemukakan ‘anda selayaknya tahu lebih baik’ serta ‘anda mesti menentukan kehidupan yg jauh dari itu’, namun berapa sesuai yang ada mereka dapat mengerjakan itu? ” kata Baxter.

” Dalam keadaan apa pun yg mengusik, latar belakang pelanggar atau pemeran bakal kerap berubah menjadi argumen yg baik kenapa pelanggaran itu berlangsung, ini dipraktekkan dalam penyalahgunaan narkoba, pelecehan seksual serta beberapa kasus intimidasi. “

Penelitiannya berasumsi kalau prinsip-prinsip itu mesti laku buat latar belakang pemeran perdagangan manusia, yg kerapkali punyai peluang hanya terbatas buat tinggalkan dunia itu demikian hutang terhadap banyak penangkapnya terbayar.

” Dari lokasi mana mereka bebas? ” kata Baxter.

” Ya, mereka tak lagi punyai utang. Lifestyle itu serta beberapa keadaan itu serta pekerjaan tersebut yg mereka mengerti. “

” Mereka tetap punyai keahlian bahasa Inggris yg hanya terbatas serta keahlian perdagangan yg hanya terbatas. “

Menurut Tubuh Narkoba serta Kejahatan PBB (UNODC) , ” hampir tiap-tiap ” negara di dunia terserang resiko perdagangan manusia dengan beberapa ribu pria, wanita serta anak-anak berubah menjadi korban.

Associate Professor Flinders University dalam sektor Kriminologi, Marinella Marmo, mengemukakan kajian studi perkara di Australia ini bakal beresiko subtansial.

” Perserikatan Bangsa-Bangsa udah memberikan animo buat bikin profile gak cuma korban yg diperjual-belikan namun pula pelanggar hukum, ” kata Dr Marmo.

” Statistik memberikan kalau hampir 3 dari 10 pemeran perdagangan manusia merupakan wanita. “

” Studi Baxter memberikan kalau [sebuah] pendekatan mencegahan sosial yg lebih inklusif mungkin dibutuhkan buat meminimalisir siklus korban-pelaku di sektor perdagangan manusia. “

About admin