Home / Berita Umum / Cerita Pengunjung Pantai Yang Terganggu Dengan Spanduk Kampanye

Cerita Pengunjung Pantai Yang Terganggu Dengan Spanduk Kampanye

Cerita Pengunjung Pantai Yang Terganggu Dengan Spanduk Kampanye – Pantai ini ada di ujung satu pulau di area Maluku Utara. Indah benar pemandangannya. Sayang, ada bendera kampanye yg menimbulkan rusaknya lansekap alam.

Kubu melintasi perjalanan laut dari Pulau Bacan hingga sandar di Desa Lele, Pulau Mandioli, Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku, Selasa (5/3/2019) .

Pemuda-pemuda di tempat cerita perihal pantai indah di ujung pulau ini. Dari sana, pasir putih terhampar di muka air laut yg bersih. Mereka juga menjanjikan karang-karang raksasa yg sesuai buat buatlah objek foto buat diunggah di Instagram. Tidak ada fikir panjang, kami pergi sebelum hari gelap.

” Dari sana ada makam keramat juga, ” kata Alfikram, salah seorang pemuda di tempat.

Alfikram, Ari, dan Lamudin menyediakan tumpangan ke Pantai Tanjung Mangga. Letak pantai surgawi itu ada di Desa Bahu. Mujur ada sepeda motor.

Kami lajukan motor sejak jam 15. 30 WIT. Jalannya bersifat tanah, tanah berbatu, dan jalan setapak. Medan landai dan naik kerapkali dilalui dengan penambahan waspada.

” Ini jalannya aduhai! ” teriak Ari yg memboncengkan saya. Dia seperti tak peduli dengan keadaan sepeda motornya waktu lewat jalan tak rata, tetaplah harus gas ditarik hingga maksimum.

Ini yaitu akses darat dari Desa Lele menuju Desa Bahu. Bukan hanya jalan darat ini, warga bisa memanfaatkan perahu bermesin, orang di tempat mengemukakan ‘bodi’. Jalan darat yg kami lalui jauh dari kata lumrah. Tak ada penerangan jalan di sini.

Sepeda motor bahkan pernah hampir hilang kesetimbangan, namun kaki Ari tetap masih bisa menangkal. Entahlah berapakah tikungan yg udah di lewati. Kami mulai masuk area perkebunan kelapa yg luas sekali. Laut biru berada pada muka.

Sampailah di tepian Pantai Tanjung Mangga sehabis tentang 20 km perjalanan dalam tempo sejam. Tempatnya jauh dari perkampungan. Hari udah sore.

Menakjubkan! Karang-karang setinggi rumah berdiri gagah, air laut jernih menghempas ke bebatuan, dan angin sore berudara sejuk kasih kesegaran badan.

Semua tersenyum. Kamera-kamera langsung aktif kala itu juga. Pemandangan ini bakal makin bertambah di nikmati orang berubah menjadi object wisata apabila akses ke Pulau Mandioli dan akses darat ke sini dibikin lebih baik. Namun jadi kesunyian pantai ini yg menambah nilai plus maksud wisata di pelosok Nusantara.

Sore ini hari air laut udah pasang. Pasir pantai udah tenggelam. ” Ini apabila tengah surut sangatlah bagus. Apabila mau ke sini mestinya pagi. Apabila cuaca bagus, bisa pakai perahu saja dari Desa Lele, bayar Rp 20 ribu, ” kata Ari menyarankan.

Tak ada pasir pantai, karang pun jadi. Saya lewat dan mendaki karang-karang tajam nan tinggi itu, ikuti langkah Lamudin, anak muda di tempat. Gerakan Lamudin cepat sekali seperti udah kenal benar dengan tiap-tiap lekuk bebatuan di sini. Meski sesungguhnya karang demikian tajam, diperlukan hati-hati bahkan buat sekedar memegangnya.

” Di ujung sebalik karang besar, ada makam keramat, ” kata Lamudin menunjuk titik yg susah dijangkau.

Suara ombak menabrak relung karang, bikin suara gemuruh yg mengintimidasi. Apabila terjatuh dari titian sempit, jadi tubuh bakal terhempas ke karang-karang tajam. Ini berdampak dan demikian tak direkomendasikan buat diselesaikan tidak ada tuntunan warga lokal.

Sampailah saya pada tempat karang yg cukup tinggi. Dari sini kelihatan pemandangan laut dan skema bebatuan, plus tebing yg menarik hati. Sayang, ada yg mengganggu keadaan.

Bendera parpol dan poster caleg berdiri di antara karang-karang indah. Saya lihat ada dua alat peraga kampanye itu, ada dari parpol partisan semasing calon presiden yg bertanding di Pemilu 2019 ini.

Memang Pemilu tambah dekat. Bendera-bendera parpol dan spanduk caleg dipasang di sana-sini, juga termasuk disudut yg tidak bisa dipikirkan ini. Di muka ada laut yg kadangkala di lewati kapal-kapal. Bendera dan spanduk ini ditujukan buat ditonton kapal-kapal yg jarang lewat itu.

Hadirnya spanduk dan bendera parpol ini pernah bikin rekan-rekan memikir kembali buat mengambil foto. Keadaan alami bakal berkurang apabila sejumlah benda politis dipajang tidak ada memedulikan estetika, ditambah kembali dalam tempat yg punyai kapabilitas wisata. Pantai Tanjung Mangga ini bertambah lebih indah apabila tidak ada kehadiran spanduk parpol.

Matahari hampir tenggelam. Kami bergegas pulang. Jalan setapak dalam rimba kami lalui kembali, kesempatan saat ini dalam keadaan gelap seluruh dikarenakan tak ada lampu penerangan jalan. Lampu dari sepeda motor yaitu senjata utama di perjalanan menerobos gelap.

About admin